laporan azg penetapan kadar air metode oven biasa

Laporan Praktikum ke-3                     Tanggal mulai             : Selasa,6 Maret 2012

MK. Analisis Zat Gizi Makro               Tanggal Selesai         : Selasa,6 Maret 2012

 

PENETAPAN KADAR AIR METODE OVEN BIASA

 

Oleh :

Kelompok 3

Aris Sulfiana                     I14100003

Moh. Miftachur Rizqi       I14100026

I KD Agus Hendra D.       I14100033

Fitria Nurjanah                 I14100037

Irmawati Ramadhania     I14100053

Pamila Adhi Annisa         I14100064

 

 

Asisten Praktikum

Eny Palupi,STP,MSc

Irma Marlina

Priskila

Koordinator Mata Kuliah

Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, M.Sc.

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kadar air dalam suatu bahan makanan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan dari bahan pangan tersebut. Apabila kadar air bahan pangan tersebut tidak memenuhi syarat maka bahan pangan tersebut akan mengalami perubahan fisik dan kimiawi yang ditandai dengan tumbuhnya mikroorganisme pada makanan sehingga bahan pangan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.

Penentuan kadar air dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat. Penentuan kadar air dalam makanan dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode pengeringan (dengan oven biasa), metode destilasi, metode kimia, metode khusus. Metode pengeringan (dengan oven biasa) dilakukan untuk menentukan kadar air dari bahan pangan yang mengandung banyak air dan umumnya stabil terhadap pemanasan tinggi. Produk yang digunakan dapat pula digunakan untuk produk seperti pada metode oven vakum kecuali yang banyak mengandung sukrosa atau glukosa.

Penentuan kadar air suatu bahan pangan digunakan untuk menentukan banyaknya zat gizi yang dikandung oleh bahan pangan tersebut. Dengan memanaskan suatu bahan pangan dengan suhu tertentu maka air dalam bahan pangan tersebut akan menguap dan berat bahan pangan tersebut akan konstan. Berkurangnya berat bahan pangan tersebut berarti banyaknya air yang terkandung dalam bahan pangan tersebut.

Oleh karena itulah dilakukan praktikum penetapan kadar air metode oven biasa supaya dapat memudahkan dalam menentukan presentase zat gizi yang terkandung dalam suatu bahan pangan tepung-tepungan.

 

Tujuan

            Mengetahui kadar air pada berbagai macam tepung-tepungan dengan menggunakan metode oven biasa (pemanasan langsung).

TINJAUAN PUSTAKA

Metode Oven Biasa (Pemanasan Langsung)

Metode oven biasa merupakan salah satu metode pemanasan langsung dalam penetapan kadar air suatu bahan pangan. Dalam metode ini bahan dipanaskan pada suhu tertentu sehingga semua air menguap yang ditunjukkan oleh berat konstan bahan setelah periode pemanasan tertentu. Kehilangan berat bahan yang terjadi menunjukkan jumlah air yang terkandung. Metode ini terutama digunakan untuk bahan-bahan yang stabil terhadap pemanasan yang agak tinggi, serta produk yang tidak atau rendah kandungan sukrosa dan glukosanya seperti tepung-tepungan dan serealia (AOAC 1984).

Metode ini dilakukan dengan cara pengeringan bahan pangan dalam oven. Berat sampel yang dihitung setelah dikeluarkan dari oven harus didapatkan berat konstan, yaitu berat bahan yang tidak akan berkurang atau tetap setelah dimasukkan dalam oven. Berat sampel setelah konstan dapat diartikan bahwa air yang terdapat dalam sampel telah menguap dan yang tersisa hanya padatan dan air yang benar-benar terikat kuat dalam sampel. Setelah itu dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui persen kadar air dalam bahan (Crampton 1959).

Secara teknik, metode oven langsung dibagi menjadi dua yaitu, metode oven temperatur rendah dan metode oven temperatur tinggi. Metode oven temperatur rendah menggunakan suhu (103 + 2)˚C dengan periode pengeringan selama 17 ± 1 jam. Periode pengeringan dimulai pada saat oven menunjukkan temperatur yang diinginkan. Setelah pengeringan, contoh bahan beserta cawannya disimpan dalam desikator selama 30-45 menit untuk menyesuaikan suhu media yang digunakan dengan suhu lingkungan disekitarnya. Setelah itu bahan ditimbang beserta wadahnya. Selama penimbangan, kelembaban dalam ruang laboratorium harus kurang dari 70% (AOAC 1970). Selanjutnya metode oven temperatur tinggi. Cara kerja metode ini sama dengan metode temperatur rendah, hanya saja temperatur yang digunakan pada suhu 130-133˚C dan waktu yang digunakan relatif lebih rendah (Crampton 1959).

Metode ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu ; a) Bahan lain disamping air juga ikut menguap dan ikut hilang bersama dengan uap air misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri dan lain-lain ; b) Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau zat mudah menguap. Contoh gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi ; c) Bahan yang dapat mengikat air secara kuat sulit melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan (Soedarmadji 2003).

 

Kadar Air

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan persen. Kadar air juga merupakan karakteristik yang sangat penting dalam bahan pangan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air menyebabkan mudahnya bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (Haryanto 1992). Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara disekitarnya. Kadar air ini disebut dengan kadar air seimbang.

Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan itu. Selain merupakan bagian dari suatu bahan makanan, air merupakan pencuci yang baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan digunakan dalam pengolahannya. Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba yang dinyatakan dengan Aw yaitu jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya (Winarno 2004).

Penetapan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantung pada sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105 – 110 °C selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Untuk bahan yang tidak tahan panas, seperti bahan berkadar gula tinggi, minyak, daging, kecap dan lain-lain pemanasan dilakukan dalam oven vakum dengan suhu yang lebih rendah. Kdang-kadang pengeringan dilakukan tanpa pemanasan, bahan dimasukkan ke dalam eksikator dengan H2SO4 pekat sebagai pengering, hingga mencapai berat yang konstan (Winarno 2004).

 

Tepung

Tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus atau sangat halus tergantung pemakaiannya. Biasanya digunakan untuk keperluan penelitian, rumah tangga, dan bahan baku industri. Tepung bisa berasal dari bahan nabati misalnya tepung terigu dari gandum, tapioka dari singkong, maizena dari jagung atau hewani misalnya tepung tulang dan tepung ikan (Sofiya 2006).

Tepung (bila dilihat di bawah mikroskop) akan terlihat zat tepung yang terdiri atas granula yang berbeda. Tepung dibuat dari jenis padi-padian dan umbi-umbian yang melalui proses beberapa tahap sampai menjadi tepung yang kering. Tepung tidak larut dalam air sehingga tepung akan mengendap di dalam air, dan bila dipanaskan sambil diaduk-aduk akan mengembang dan mengental. Prose ini disebut “gelatinasi”. (Soejoetu 1998)

Tepung mulai mengetal pada suhu 64-720 C Celcius. Setelah melampaui suhu 1090 Celcius, tepung akan betul-betul matang. Makin tinggi konsentrasi larutan tepung, makin cepat mengental meskipun belum semua granula pecah. Jadi, masih ada rasa mentah, berarti belum semua bagian matanf. Bila membuat bubur tepung kurang cukup cairan, dan pengaduknya kurang sempurna, butir-butir granula menjadi keras dan liat, tidak rata atau menggumpal. Jika dimasak dengan air, tepung tapioka (tepung kanji, tepung aci), tepung kentang dan tepung maizena serta tepung hungkue akan menjadi bubur kental dan bening, lebih jernih daripada bubur dari tepung beras atau tepung terigu.(Soejoeti 1998)

 

Tepung Sagu

Tergolong tepung gluten-free. Dibuat dari bagian tengah pohon sagu atau pohon aren (sehingga kadang-kadang disebut sagu aren). Bagian tengah pohon ini dikeruk, dihaluskan, campuran air dan didiamkan hingga mengendap. Endapannya dikeringkan dan dihaluskan atau dbentuk lempengan menjadi keping sagu yang populer untuk bubur, menjadi makanan pokok dibanyak wilayah di Indonesia Timur (Iza 2007). Ada berbagai jenis tepung selain tepung terigu, yaitu tepung sagu yang berasal dari pati dan diekstrak dari batang sagu memiliki kadar air pati sagu bervariasi antara 12,50-12,99%. Dan menurut SNI (2004), kadar air tepung sagu maksimal sebesar 13%.

 

Tepung Terigu

Tepung terigu relatif lebih mudah terdispersi dan tidak mempunyai daya serap yang terlalu tinggi. Tepung merupakan komponen paling banyak dalam pembuatan makanan. Tepung terigu berfungsi sebagai bahan dasar untuk pembentukan adonan pada makanan (Matz dan Matz 1978 dalam Soliha I 2008). Berdasarkan kandungan proteinnya, tepung dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu terigu keras (kadar protein minimal 12%), terigu sedang (kadar protein sebesar 10-11%), dan terigu lunak (kadar protein sebesar 7-9%). Komponen terbesar tepung terigu adalah pati. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi terlarut disebut amilosa dan fraksi tidak terlarut disebut dengan amilopektin (Winarno 1997 dalam Azizah 2009).

Pada seratus gram tepung terigu terkandung kalori sebesar 365 kalori, protein 8.9 g, lemak 1.3 g, karbohidrat 77.3 g, kalsium 16 mg, fosfor 106 mg, besi 1.2 mg, vitamin A 0 mg, vitamin B1 0.12 mg, vitamin C 0 mg, air 12 mg (Prawiranegara 1989 dalam Azizah 2009).

 

Tepung terigu adalah tepung yang terbuat dari biji gandum melalui proses penggilingan. Kata “terigu” sendiri diserap dari bahasa Portugis “trigo” yang berarti gandum. Definisi tepung terigu sebagai bahan makanan menurut SNI (Standard Nasional Indonesia) adalah tepung yang dibuat dari endosperm biji gandum Triticum aestivum L. (Club wheat) dan/atau Triticum campactum Host atau campuran keduanya dengan penambahan fortifikan zat besi (Fe), seng (Zn), vitamin B1, vitamin B2 dan asam folat. Boleh juga ditambahkan BTP (bahan tambahan pangan) yang diijinkan sesuai peraturan tentang BTP (Anonim 2010). Tepung terigu merupakan tepung/bubuk halus yang berasal dari biji gandum dengan kadar air tepung terigu maksimal sebesar 12% (SNI 2006).

Tepung Beras

Tepung beras dapat dibedakan menjadi 2 yaitu tepung beras dan tepung beras ketan. Hal ini dibedakan dari kandungan amilosa yang mempengaruhi sifat-sifat pemasakan (Cooking quality) dan kualitas rasa (Eating Quality). Untuk tepung beras kadar amilosanya berkisar 17-32%, akan berpengaruh pada hasil pemasakan, beras ketan akan tetap lunak walaupun dibiarkan satu malam setelah dimasak. Sedangkan tepung beras umumnya kadar amilosanya kurang dari 25 %, pengaruhnya setelah pemasak, volume beras akan besar tetapi keras bila sudah dingin. Hal lain yang penting dalam penanganan  tepung beras dan tepung beras ketan adalah kadar air yang terkandung didalamnya, mengikat kadar air yang berubah-ubah tergantung merek dan kemasan, maka dianjurkan bagi para pemula untuk mengontrol penggunaan cairan dalam pembuatan jajan pasar. (Utomo 2005)

Tergolong gluten-free, dibuat dari beras yang ditumbuk (bukan pati beras). Banyak digunakan untuk membuat kue tradisional (kue mangkok, kue talam dll), atau tepung pelapis pada gorengan karena kegaringannya. (Iza 2007)

 

Tepung Beras Ketan

Tepung ketan sifatnya lengket seperti beras ketan. Dapat dimasak menjadi berbagai makanan kecil atau jajan. Karena bersifat lengket, bila dicampur dengan santan menjadi tidak terlalu lengket. Ada dua macam ketan, yaitu ketan putih dan ketan hitam. Ketan hitam biasanya dibuat tape atau dimasak bubur ketan hitam yang dihidangkan dengan santan kental, sangat kontras dengan warna ketan. Jadi, sangat menarik dan rasanya sangat gurih. (Soejoetu 1998)

Tepung ketan merupakan bahan pokok pembuatan kue-kue Indonesia yang banyak digunakan sebagaimana juga hal dengan tepung beras. Tepung ketan saat ini sangat mudah untuk mendapatkannnya karena banyak dijual dipasaran dalam bentuk tepung yang halus dan kering. Tepung ketan memiliki amilopektin yang lebih besar dibandingkandengan tepung-tepung lainnya. Amilopektin inilah yang menyebabkan tepung ketan (beras ketan) lebih pulen dibandingkan dengan tepung lainnya. Tepung yang baik akan mempunyai komposisi sebagai berikut :Kadar air : 13%, Kadar protein : 12 – 13%, Kadar hidrat arang : 72 – 73%, Kadar lemak : 1½ % (Anni 2008). Sedangkan menurut SNI (2004) tepung ketan  memiliki amilopektin lebih besar dibandingkan dengan tepung-tepung lainnya, kandungan airnya adalah 7,56 %.

Tepung Maizena

Tepung maizena (tepung jagung) memiliki karakter yang berbeda dengan tepung sagu, tepung maizena bisa larut dalam air, tetapi kurang mampu menahan air. Tekstur tepung maizena goreng cenderung lebih renyah dan mudah patah saat digigit. Namun, pemakaian tepung maizena berlebihan akan membuat gorengan terasa keras. (Yuyun 2007)

Digunakan sebagai bahan dasar tambahan dalam pembuatan kue. Fungsinya mengontrol penurunan protein dalam tepung agar dapat menghasilkan hasil kue yang lembut. Jenis tepung ini memiliki kadar gula rendah, jadi sangat baik untuk dikonsumsi oleh orang-orang yang sedang menurunkan berat badan (Novianti 2008).Selanjutnya ada tepung maizena yang terbuat dari pati jagung dengan kandungan airnya 12% (Subandi 1998).

Tepung Hunkwe

Tepung hunkwe merupakan tepung kacang hijau, masih tergolong gluten-free. Kalau di Indonesia biasa dipakai untuk kue tradisional seperti puding hunkwe, kue cantik manis, nagasari hunkwe sampai es cendol (Iza 2007). Tepung Hunkwe diperoleh melalui proses ekstraksi basah pati kacang hijau, yaitu penumbukan biji supaya terbelah, perendaman dalam air selama tiga jam, penghilangan kulit, kemudian penggilingan (ekstraksi) dengan penambahan air (rasio kacang hijau : air = 1 : 3) dan penyaringan(Subandi 1998).

 

 

 

 

 

 

METODOLOGI
Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan pada tanggal 6 Maret 2012 di Laboratorium Analisis Zat Gizi Makro , Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia.

Alat dan Bahan

            Dua buah Cawan logam , satu buah Desikator berisi bahan pengering silica gel , satu Penjepit cawan , satu buah Neraca analitik ,  dan terakhir adalah Oven.Untuk bahan bahan yang digunakan adalah 6 jenis tepung tepung terigu Segitiga Biru, tepung sagu curah, tepung beras Rose Brand, tepung beras ketan, tepung maizena, dan tepung hunkwe.

Prosedur Praktikum

Cawan logam dikeringkan dalam oven pada suhu 100-105OC selama 30 menit

Cawan didinginkan dalam desikator selama 20 menit

Ditimbang berat kosong cawan pada neraca analitik

2 gram sampel tepung ditambahkan ke dalam cawan

 

Dikeringkan pada oven pada suhu 100-105OC selama 3-4 jam

Didinginkan dalam desikator selama 20 menit

Ditimbang berat keringnya

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Prinsip penetapan kadar air dengan metode pemanasan biasa (gravimetri) adalah menguapkan air yang terkandung dalam bahan dengan jalan pemanasan. Bahan tersebut dipanaskan sampai memiliki berat yang konstan. Berat yang konstan menunjukkan bahwa kandungan air pada bahan telah menguap seluruhnya, dan hanya tersisa berat kering bahan itu sendiri.

Praktikum penetapan kadar air metode oven biasa (gravimetri) dilakukan untuk mengetahui kadar air yang terkandung dalam bahan. Bahan-bahan yang digunakan di antaranya tepung terigu Segitiga Biru, tepung sagu curah, tepung beras Rose Brand, tepung beras ketan, tepung maizena, dan tepung hunkwe. Pada langkah pertama, dilakukan penimbangan berat cawan aluminium yang telah dikeringkan dalam oven dan didinginkan pada destikator pada timbangan analitik. Kemudian, sebanyak 2 gram tepung ditambahkan pada cawan tersebut dan ditimbang kembali (B1). Selanjutnya, cawan beserta tepung dikeringkan dalam oven selama kurang lebih 3 jam pada suhu tinggi (100-105°C) untuk mendapatkan berat yang konstan. Setelah dikeluarkan dari oven, cawan dimasukkan ke dalam destikator supaya suhunya sama dengan suhu ruangan. Kemudian, dilakukan penimbangan ulang pada cawan tersebut (B2). Langkah yang sama dilakukan pada keenam jenis tepung. Berikut merupakan tabel hasil percobaan keenam jenis tepung.

Tabel 1Hasil penimbangan berat bahan, cawan, B1, dan B2

Kelompok

Bahan

No. Cawan

Berat Cawan (g)

B1 (g)

B2 (g)

1

Tepung terigu

123

6.950

8.957

8.727

101

5.668

7.608

7.370

2

Tepung sagu

119

5.698

7.736

7.510

21

6.195

8.197

7.974

3

Tepung beras

146

5.690

7.700

7.484

56

5.920

7.930

7.717

4

Tepung beras ketan

140

5.642

7.666

7.463

32

5.653

7.656

7.453

5

Tepung maizena

160

6.863

8.836

8.587

203

5.575

7.580

7.336

6

Tepung hunkwe

184

5.620

7.650

7.839

72

6.450

8.545

8.274

Keterangan : B1 = Berat bahan dan cawan sebelum dipanaskan (g)

B2 = Berat bahan dan cawan setelah dipanaskan (g)

Pada bab pembahasan ini, hanya dibahas kadar air pada tepung beras. Tepung beras adalah… Berikut adalah tabel berat bahan, B1, dan B2 tepung beras beserta rataannya.

Tabel 2 Berat bahan, B1, dan B2 tepung beras dan rataannya

Ulangan ke-

Berat tepung sblm dipanaskan (g)

Berat tepung stlh dipanaskan (g)

Berat air (g)

1

2.010

1.794

0.216

2

2.010

1.797

0.213

Rataan

2.010

1.796

0.215

Berdasarkan tabel di atas, berat tepung beras sebelum dipanaskan adalah 2.010 gram, sedangkan berat air pada tepung beras adalah sebesar 0.215 gram. Hal ini menunjukkan bahwa tepung beras yang digunakan memiliki kadar air sebesar 10.7%. Menurut DSN (1994), tepung beras memiliki kandungan air sebesar 11%. Kadar air berdasarkan hasil percobaan sedikit berbeda dengan kadar air berdasarkan literatur. Hal ini dapat disebabkan oleh lama waktu penyimpanan tepung, kondisi penyimpanan tepung, merk dagang, jumlah ulangan percobaan, serta metode yang digunakan dalam penetapan kadar air pada tepung. Kadar air pada tepung tidak boleh melebihi (…%) karena kadar air yang tinggi dapat menyebabkan tepung cepat mengalami perubahan fisik dan kimiawi, seperti tepung menjadi apek, menggumpal, dan berulat.

DAFTAR PUSTAKA

[DSN]. 1994. Tepung beras: SNI 01-3549-1994. Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional.

[SNI]. 2004. Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium    Kalibrasi. 19-17025-2000.

____. 2006. Tepung Terigu sebagai Bahan Makanan. 01-3751-2006.

AOAC. 1984. Official Methods of Analysis of The Association of Official Analytical Chemistry. 14th Ed. Virginia : AOC, Inc.

Azizah T N. 2009. Kajian Pengaruh Substitusi Parsial Tepung Terigu dengan Tepung Daging Sapi dalam Pembuatan Kreker terhadap Kerenyahan dan Sifat Sensori Kreker Selama Penyimpanan [skripsi]. Departemen Tekhnologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, IPB, Bogor.

Crampton, EW. 1959. Fundamental of Nutrition. USA: Freeman and Company.

C. Soejoeti Tarwotjo. 1998. Dasar-dasar Gizi kuliner. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Faridah, anni. 2008. Patiseri. Jakarta : Departemen Nasional Dikmenjur

Iza. 2007. Tepung..oh..tepung.  [terhubung berkala]. http://dapurarang.multiply.com/journal/item/16?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem (11 Maret 2012)

Novianti, Yeni. 2008. Diabetes Cookies. Jakarta: Kawan Pustaka.

Sofiya. 2006. Jenis-jenis tepung dan kegunaannya. [terhubung berkala] http://alkiram.net/salam/2006/08/31/jenis-jenis-tepung-dan-kegunaannya/ (11 Maret 2012).

Subandi Inu G dan Hermanto. 1998. Jagung Teknologi produksi dan Pascapanen. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

Sudarmadji, Slamet, H.Bambang, Suhardi. 2003. Analisa Bahan Makanan     dan Pertanian. Yogyakarta : Liberty.

Utomo, Hendra. 2005. Resep Eksklusif Jajan Pasar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Winarno.  2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Yuyun A. 2007. Membuat Aneka Lauk Crispy. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

 

LAMPIRAN

Tabel . Data berat cawan dan sampel sebelum dan sesudah dikeringkan

Bahan No. Cawan Berat Cawan Berat Sampel Berat Sebelum Dipanaskan Berat Setelah Dipanaskan
T.terigu

123

6.95

2.007

8.957

8.727

101

5.668

1.94

7.608

7.37

T. sagu

119

5.698

2.038

7.736

7.51

21

6.195

2.002

8.197

7.974

T.beras

146

5.69

2.01

7.7

7.484

56

5.92

2.01

7.93

7.717

T.brs ketan

140

5.642

2.024

7.666

7.463

32

5.653

2.003

7.656

7.453

T.maizena

160

0

8.587

203

0

7.336

T. hunkwee

184

5.62

2.219

7.839

7.65

72

6.45

2.095

8.545

8.274

 

Tabel . Data persen total padatan jenis tepung-tepungan

Jenis Tepung Persen Kadar air Persen Total Padatan
T. terigu

11.46

88.54

12.27

87.73

T. Sagu

11.09

88.91

11.14

88.86

T. Beras

10.75

89.25

10.60

89.40

T. Beras Ketan

10.03

89.97

10.13

89.87

T. Maizena
T. Hunkwe

8.52

91.48

12.94

87.06

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s